Lompat ke isi

Pakanḍhâ'ân:lanḍhiyân

Konten halaman tidak didukung dalam bahasa lain.
Longkang anyar
Ḍâri Wikikamus

Penggunaan Transkripsi IPA (International Phonetic Alphabet) lèma.

[beccè']

Lukjsly, @Boesenbergia, sebelumnya telah diusulkan di grup tentang transkripsi, bagaimana menurut saudara soal format IPA yang diterapkan pada bagian Oca'? saya mungkin akan memakainya. Adakah yang perlu saya perdalam?. Munajad.MH (kanḍhâ) 22 Fèbruwari 2025 16.55 (WIB)Balas

Saya percaya, tidak ada individu maupun organisasi yang tidak mau berkembang. Kami, khususnya saya pribadi sangat mendukung dan mengapresiasi ide dari bapak. Tetapi balik lagi, dalam komunitas tidak hanya memiliki 1 atau 2 orang anggota, tapi lebih dari itu. Karenanya, alangkah lebih baik jika semua gagasan dapat didiskusikan bersama sebelum benar-benar diterapkan. Jujur saja, teman-teman komunitas, banyak (atau bahkan hampir sebagian besar) belum paham terkait konsep transkripsi IPA, begitupun tentang penerapannya. Meski pengaruhnya tidak begitu signifikan karena anggota dan (bisa jadi) pembaca juga adalah penutur asli bahasa Madura yang sejatinya telah paham cara pelafalan yang benar, tapi saya rasa akan lebih menakjubkan jika niat baik ini dapat disambut dan diterapkan oleh semua anggota komunitas agar kita sama-sama berkembang, tidak hanya Bapak, saya, atau kak Boesenbergia.
Usul ini bisa disampaikan dan didiskusikan lagi pada rapat bulan Maret. Jika diterima, bisa dilanjutkan dengan bahasan terkait format template yang ideal untuk WikiKamus Madura melihat juga telah ada keccap (pengucapan) yang diimpor dari Wikimedia Commons, karena kemarin komunitas hanya menyepakati pelafalan dan wikitutur (suara yang diimpor dari WikiCommons). Bagaimana menurut kak @Boesenbergia? Lukjsly (kanḍhâ) 24 Fèbruwari 2025 12.50 (WIB)Balas
@Lukjsly Anda benar, dan sebenarnya saya memang berniat membuat teman² saling tahu sehingga ilmu bebas berkeliaran tidak dimonopoli, oleh karenanya saya selalu menyulut soal menjadi diri sendiri sehingga tahu kapasitas sendiri kemudian berdiskusi, dengan bertanya maka saya bisa membagi atau mendapatkan ilmu lewat diskusi, adapun IPA, saya telah membuat beberapa panduan IPA, seperti pada artikel berikut: w:Bhâsa Madhurâ, besok saya akan mulai mengembangkan halaman bantuan dan artikel IPA di mad.wiki, agar pengetahuan menjadi mardhika dan penggunaan IPA menjadi lebih luas tak mengenal waktu. Mohon beritahu saya apakah format dengan IPA di bagan Oca' ini telah tepat, nanti akan saya buat laporan di grup, kalau dirasa sudah pas maka saya akan buat panduannya, setelahnya, dapat diresmikan di Rapat Bulanan. Ini jauh lebih mengembangkan Wiki Madura karena saya telah siap, sudah saya katakan ke boesenbergia jika bulan depan sya mungkin tak sesiap sekarangMunajad.MH (kanḍhâ) 24 Fèbruwari 2025 22.39 (WIB)Balas
Menurut saya ada beberapa hal yg perlu jadi pertimbangan:
1. Sejauh ini IPA untuk Bahasa Madura belum ada kesepakatan di antara peneliti, misalnya transkripsi IPA di artikel Prof. Akhmad Sofyan, William D. Davies yg meneliti ragam bahas Madura dialek Bangkalan, Kamus alm Adrian Pawitra atau bahkan yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Timur. Oleh karena itu perlu disepakati terlebih dahulu untuk trankripsi IPA ini mau pakai yang mana? Saran dari @Lukjsly bagus agar didiskusikan terlebih dahulu saat rapat komunitas.
2. Sebenarnya apa perlu menggunakan transkripsi IPA? Kebanyakan dari kita bukan ahli yang ahli2 banget, jadi memunculkan pertanyaan: apa faedahnya buat penutur asli dan non asli? Kalo misalnya tidak berfaedah karena sudah ada keccap, menurut saya tidak wajib menggunakan IPA
3. Kalau mau menggunakan IPA, jangan mengganti Oca', mungkin format di Wikikamus Inggris tentang kata rainnaisance ini bisa jadi contoh. Terkait pemformatan perlu dikaji juga melalui diskusi di rapat bulanan.
4. Halaman sudah saya alihkan menjadi lanḍhiyân, dari oca' ḍhâsar lanḍhi ditambah èmbuwân +an dan huruf peluncur y. Kata ini nampak diserap dari bahasa Jawa, tercantum juga di Wikisastra Boesenbergia (kanḍhâ) 25 Fèbruwari 2025 11.19 (WIB)Balas
  1. sebelumnya, pada artikel Bhâsa Madhurâ saya akan memperbagus alofon dan diftongnya dan pasca ini akan saya letakkan disklaimer: "Ghi' ta' bâḍâ kasaroju'an antara kalangan bhlântèk otabâ ahli, kanèng kennèng èpanyittong mara arèya:", sepanjang penelitian saya, perbedaan beliau dengan beliau itu tidak sejauh apa yang ditraumakan:
a. Mengalihkan Trasnkripsi ala kadarnya ke IPA
Kamus pak Pawitra dan beberapa penulisan pak Sofyan masih menggunakan transkripsi model usang (bahkan bukan IPA)
  • /è/ yang ditulis [Є], kiranya itu adalah kesalahan tipografi atau alternatif dari kesulitan menemukan /ɛ/ pada tahun 2009-2010, begitupula dengan /ɔ/ yang ditulis memakai kaf ibrani /כ/ pada jurnal pak Sofyan, namun dapat dipahami jika maksud /o/ adalah /ɔ/, /ny/ ditranskripsikan oleh beliau-beliau sebagai /ñ/ (bukan IPA) semestinya ditulis ɲ (IPA) begitu pula /j/ (di IPA berbunyi "y") semestinya /dʒ/ dan bisat/hamzah yang menjadi /?/ padahal semestinya /ʔ/, pak Sofyan metranskripsikan /â/ sebagai /â/ dan tidak mengakui /â/ sebagai alfabet berbeda dari /a/ melainkan alofon, sedangkan pada Kamus pak Pawitra telah menyesuaikan /â/ kepada bunyi IPA [ɐ].
b. Jumlah Alfabet Madura
Huruf-huruf tunggal maupun ganda yang masih diselisihkan sebagai bagian dari huruf Madura utamanya adalah /q/, /v/, /x/, /kh/, /sy/, serta antara /ṭ/ dan /th/, namun ini tidak mengganggu fonetisasinya.
c. Perbedaan dalam transkripsi
Perbedaan besar umumnya terletak pada alofonnya, alofon seringkali muncul sebab faktor ketidaksengajaan dan tidak merubah makna, seperti pengucapan yang terlalu cepat atau jikapun ada maka jumlahnya terbatas dan tetap dapat diwakilkan oleh huruf patokan (fonem), kamus pak Pawitra lebih sederhana dibanding pak Sofyan namun masih memiliki benang merah, berikut penyelasaran IPAnya:
  • /â/ > /ɐ/ (Kamus pak Pawitra (sesuai IPA)) dan /â/ (pak Sofyan (tak sesuai IPA))
- alofon lebih lengkap [ə]
  • /è/ > /ɛ/
- bahasa Madura adalah bahasa fonetis, jadi, bunyi [ẽ] dapat diwakili oleh [ɛ] atau [e]
  • /o/ > /ɔ/ (dan /U/ pada Kamus pk Pawitra dan pk Sofyan (tak sesuai IPA))
- alofon lebih lengkap: [ʊ]
  • /i/ > /i/,
- alofon lebih lengkap [ɪ], [ï]
  • /u/ > /u/
> untuk /o/ dan /è/ terkadang menjadi berbunyi [u] dan [i], ini lebih karena pengucapan dialek tertentu yang tak terwakilkan oleh penulisan standar, seperti /arèya/ yang dibaca [a.'riːja], atau /bungo/ yang dibaca [bu.ŋu]
bahasa Madura hampir mirip dengan bahasa Indonesia, yang membedakan hanya huruf aspirat, adapun transkripsi maupun alofon dari huruf /è/ dan /â/ juga sebetulnya mirip dengan /e/ dalam bahasa Indonesia.
d. Perbedaan ini tidak menganggu Fonetisasi atau ::dokumentasinya, satu-satunya yang menganggu adalah perihal dialek bahasa Madura yang belum banyak jurnalnya dan penulisan otografi fonemnya.
2. saya tidak yakin keccap dapat mewakili IPA apalagi pengucapan keccap yang bias dialek, ada kebagusan dalam cara en.wiktionary dimana meletakkan nama dialek inggris (Canada) di samping keccapnya, namun di bahasa Madura akan terkendala oleh tanggungjawab ilmiah sebab belum cukup penelitian ilmiah oleh orang Madura sendi
3. Saya akan menurunkan IPAnya masuk ke bagan Keccap, dan setuju dengan anda dimana penulisan otografinya disediakan pada Oca'nya untuk memperkuat PAGENAME nya.
4. untuk penggunaan huruf peluncur saya masih menunggu buku Kamus pak Pawitra terbaru.
Kesimpulan:
  1. perbedaan diantara peneliti masih dapat di temui benang merahnya, penelitian fonetika yang sudah ada memiliki keakuratan yang sangat besar, perselisihannya hanya pada perbedaan sebagai alofon belaka, tidak akan mengganggu pada usaha transkripsi, penerapan IPA Madura sangat mungkin dilakukan.
  2. IPA sangat penting terutama untuk memperkuat cara lisannya yang kurang akurat.
barangkali masalah utamanya masih hanya karena tidak mengetahui IPA, sebetulnya seorang penutur ibu akan jauh lebih mudah memahami IPA untuk bahasa Madura dan berkemungkinan mendatanya lebih jauh. Munajad.MH (kanḍhâ) 25 Fèbruwari 2025 14.54 (WIB)Balas
ini OOT, kalau boleh tau latar belakang @Munajad.MH apa memang peneliti bahas Madura? Ada halaman Google Scholar atau artikel yang sudah Munajad publikasikan? Boesenbergia (kanḍhâ) 25 Fèbruwari 2025 14.59 (WIB)Balas
apa itu OOT?, saya meneliti, tapi bukan berupa karya tulis ilmiah (KTI) dan apakah paparan saya ada yang perlu diperdalam? ataukah perlu dikritisi? Munajad.MH (kanḍhâ) 25 Fèbruwari 2025 16.03 (WIB)Balas
Terima kasih atas niat baik pak munajad untuk lebih memajukan komunitas madwiki dengan ikut serta berkontribusi di proyek-proyek Komunitas Wikimedia Madura baik di Wikipedia maupun WikiKamus.
Jujur saja, saya bukan ahli maupun peneliti bahasa Madura, tapi sebelumnya saya telah mereview beberapa suntingan bapak di WikiKamus bahasa Madura ada perbedaan dengan format IPA yang ada di kamus pak Adrian terutama dalam penulisan â dan e. Tapi ketika saya cek di lampiran IPA yang bapak sertakan sepertinya sudah sama dengan yang ada di kamus pak Adrian, sedang yang pak munajad gunakan sebagaimana alofon punya pak Sofyan. Meski bapak sudah menyinggung jika tidak ada pengaruh signifikan pada keduanya, tapi melihat kontrubor maupun pembaca di madwiki tidak semuanya atau bahkan sebagian besar tidak memiliki background linguistik. Agaknya hal ini perlu dipertimbangkan juga.
kemarin saya juga sempat menyampaikan ke teman komunitas agar tidak menghilangkan keccap (wikitutur) yang sudah ada.
Saya pribadi sebenarnya tidak ada masalah dengan penggunaan IPA pada WikiKamus Madura dengan catatan tidak perlu menghapus oca' aslinya (sebagai contoh kata pada en.wiktionary yang sudah dilampirkan kak Boesenbergia, tetap menyertakan keccap, dan yang terpenting penulisan IPA yang dipakai ini adalah satu kesepakatan bersama. Harus ada rujukan. Bukan setiap orang menggunakan rujukan atau format yang berbeda. "Keanekaragaman" seperti ini malah yang akan merusak tatanan komunitas.
Selain itu, bapak sempat menyampaikan jika kamus pak Adrian penulisannya sudah usang, bahkan tidak dapat dikategorikan IPA. Lalu, apa yang akan komunitas jadikan acuan nantinya? Apakah "penelitian" pak munajad yang sejauh ini mungkin masih belum ada validasi akademik sehinggal nilai validitas dan reliabilitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Mungkin ini didiskusikan dulu, lagi2 tidak akan pernah ada kesia-siaan dalam berdiskusi dalam organisasi asal semua pihak berniat mencari titik tengah. Kesepahaman dan keputusan bersama. Lukjsly (kanḍhâ) 26 Fèbruwari 2025 13.08 (WIB)Balas
Saya tidak ada tujuan ataupun pernah mengatakan untuk menghapus keccap dan menggantinya dengan IPA, dan sudah saya ucapkan diatas jika perbedaan kedua paparan beliau itu tak memiliki perbedaan signifikan dan memiliki benang merah, artinya kita bisa menyatukan beliau-beliau, jika anda baca tembolok dari artikel w:bhâsa Madhurâ saya telah mengutip beliau beliau tersebut sebelum boesenbergia menyampaikan nama beliau kepada saya. IPA tidak seeksklusif itu, dan bahasa Madhurâ juga gak seeksklusif itu, beberapa bunyinya kebanyakan adalah mirip dengan bahasa disekitarnya terutama bahasa Indonesia, sehingga untuk menyatukan Fonetika yang dipaparkan kedua sosok beliau adalah sangat mudah dan sederhana. sekali lagi saya harus paparkan:


"Beliau-beliau mentranskripsikan /è/ yang ditulis [Є], kiranya itu adalah kesalahan tipografi atau alternatif dari kesulitan menemukan /ɛ/ pada tahun 2009-2010, begitupula dengan /ɔ/ yang ditulis memakai kaf ibrani /כ/ pada jurnal pak Sofyan, namun dapat dipahami jika maksud /o/ adalah /ɔ/, juga /ny/ ditranskripsikan oleh beliau-beliau sebagai /ñ/ (bukan IPA) semestinya ditulis ɲ (IPA) begitu pula /j/ (di IPA berbunyi "y") semestinya /dʒ/ dan bisat/hamzah yang menjadi /?/ padahal semestinya /ʔ/"


yang salah dipahami lainny, oleh teman-teman disini adalah "penulisan usang", yang dimaksud itu adalah tulisan transkripsi yang tidak sesuai IPA yang telah saya ucapkan faktornya sebelumnya: "itu adalah kesalahan tipografi atau(pun) alternatif dari kesulitan menemukan (huruf IPA yang tepat)". Kalau ada yang perlu diperdalam, sampaikan, mohon.
tetap rujuk beliau-beliau tapi jangkau keinginan dan keterbatasan beliau-beliau, IPA kan Alfabet Internasional ya, jadi, ada dokumentasinya, untuk mengerti masalah yang sedang saya hadapi, anda bisa melihat jurnal pak sofyan pak pawitra kemudian kunjungi juga artikel terkait bunyi IPA IPA baik di bahasa Indonesia (Alfabet Bahasa Indonesia) dan bahasa-bahasa terkait. Saya sebetulnya bingung kiranya dimana letak simbol IPA yang salah padahal seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa ini telah menyelaraskan penelitian IPA yang sudah ada?

Munajad.MH (kanḍhâ) 26 Fèbruwari 2025 13.43 (WIB)Balas

  1. Nah itu kan baru memperbandingkan dua sumber ya, dari Kamus Adrian Pawitra dan Prof. Akhmad Sofyan, bagaimana dengan Davies (2010)? Itu malah lebih berbeda lagi apalagi IPA-nya. Belum lagi penelitian terbaru dari Misnadin (2020) dan Misnadin dan Kirby (2020) yang juga pengembangan dari Davies (2010). Dari banyaknya lambang IPA yang dipakai di sini, saya pribadi lebih condong ke arah penelitian terbaru (Misnadin (2020) dan Misnadin dan Kirby (2020), mempertimbangkan metode yang dipakai juga lebih komprehensif dan dengan responden yang lebih banyak. Ini yang perlu disepakati. Kalau pun nantinya masih tidak bisa bersepakat, masih ada alternatifnya yaitu kita bisa beri keterangan sumber lambang IPA mana yang dipakai.
  2. Di luar pembahasan mau pakai yang mana, anggota komunitas yang lain juga perlu dilibatkan dalam diskusi rapat bulanan. Jadi penyertaan IPA tidak hanya kerja dari Munajad dan/ atau saya saja.

Boesenbergia (kanḍhâ) 26 Fèbruwari 2025 15.10 (WIB)Balas

Wah itu dah, dengan penelitian pak Misnadin (2020) akan memperterang penyelesaian diskusi ini, tinggal meneruskan ke poin no 2. Berikut perbandingan atau benang merah yang didapat:
Banding perbedaan penelitian sebelumnya dengan Penelitian (Misnadin 2020):
a.) Transkripsi vokal:
  • vokal 'e'
penelitian pak Misnadin membagi e menjadi /ɨ/ (untuk mewakili vokal tinggi, pusat, tak bulat) selain dari /ə/ (mewakili vokal tengah, tengah, tak bulat) yang sebelumnya telah dipakai
  • vokal 'â'
penelitian pak Misnadin membenahi menjadi vokal [ɤ](Vokal takbulat setengah tertutup belakang), vokal yang sering muncul ketika vokal â menemui velar (lidah+langit lunak) atau uvular (lidah+uvula) sedangkan pada tulisan pak pawitra ditulis [ɐ] ¡ (lebih halus ke [a] daripada /â/ [ə]).
  • Vokal nasal
Penelitian pak Sofyan menemukan bahwa bahasa Madura memiliki pengucapan /õ/ semisal /owa'/ [õwaʔ], /ẽ/ semisal /aèng/ [ãẽng], /ĩ/ semisal /iyas/ [ĩyãs
Kiranya pertimbangan beliau tidak memakai nasal barangkali karena penggunaanya yang terbatas dikosakata tertentu.
b.) Transkripsi konsonan
  • huruf aspirat
pada penelitian sebelumnya ditranskripsikan sebagai [bʰ], [dʰ], [ɖʰ], [gʰ], [jʰ], namun (2020) [pʰ], [tʰ], [ʈh], [kʰ], [cʰ],
Saya pribadi lebih condong pada transkripsi yang (2020), tetapi dengan ditulis /bh/ /jh/ /ḍh/... dsb. karena alasan ortografis yang bisa diperdalam penjelasannya. Dan tambahan
  • huruf alveolar
Pak Misnadin menulis /th/ sebagai /ṭ/.
  • fonem 'j' hanya memiliki satu-satunya alofon yakni /ɉ/ (Konsonan letup langit-langit bersuara) tidak ada alofon /d͡ʒ/ ¡ seperti penelitian sebelumnya yang menyamakannya dengan 'j' [d͡ʒ] dari Bahasa Indonesia.
  • fonem 'c' hanya memiliki satu-satunya alofon yakni /c/ (Konsonan letup langit-langit nirsuara), tidak ada alofon /t͡ʃ/ ¡ seperti penelitian sebelumnya yang menyamakannya dengan 'c' [t͡ʃ] dari bahasa Indonesia.
kesimpulan:
Karya pak Misnadin bisa mnjadi standar penulisan, namun di bagan berbeda dari standar perlu disertai dengan alofon-alofon yang lebih luas, setidaknya adalah macam² alofon berikut yang dengan dasar bahwa alofon berikut nampaknya dipakai pada kata-kata tertentu namun secara terbatas, yakni bunyi nasal[1]: seperti pada /õ/, /ẽ/, /ĩ/, dan alofon yang sering dijumpai pada kosakata pinjaman bahasa Asing dalam bahasa Madura namun tidak menutup kemungkinan masih dipakai dalam perkataan orang Madura: [e] /katè/ [ka.te] (Misnadin (2020) hal. 174) , [o] /lusin/ [lo.sın], [ʊ] /luwat/ [lʊwat], [ɪ] /bit/ [bɪt] (satuan data).
Mungkin itu dulu, nanti mungkin ada tambahan.
Untuk penyertaan alofon lebih lengkap akan disediakan keterangan khusus apabila dibuat panduan.
Adapun selebih dari yang dijelaskan maka kiranya memiliki kesamaan sehingga tidak ada yang diselisihkan.
Konsonan ḍâlem bhâsa Madhura (Misnadin 2020)
BilabialDental/AlveolarRetroflexPalatalVelarGlottal
Plosive p pʰ bt tʰ dʈ ʈʰ ɖc cʰ ɟk kʰ gʔ
Nasal mnɳɲŋ
Fricative (f)s(h)
Lateral l
Tap/trill r
Glide wj
Contoh Alternasi Vokal Tinggi dan Non-Tinggi dalam Bahasa Madura (Misnadin 2020)
VokalKataMaknaKataMaknaKataMakna
ɛ ~ ipɛlak'kind'pʰɨpʰɨt'seed'bilɤh'when'
a ~ ɤpatɛʔ'dog'pʰɤtɑ'brick'bɤɟɤ'time'
ɔ ~ upɔcʰur'lucky'pʰuta'giant'buta'blind'
ə ~ ipəlːɔ'sweat'pʰɨlːɨs'upset'bɨsːɛh'besi'

Munajad.MH (kanḍhâ) 26 Fèbruwari 2025 18.35 (WIB)Balas